Bajingan Yang Berjalan Dengan Waktu
Kau pasti mengenali senja yang mengunjungimu seusai berkutat dengan lelah seharian.
Kau menyusuri jalanan yang perlahan mulai ramai dan kedai kopi menata kursi serta meja.
Aku pun mengenali rindu yang berjalan di belakang senja sore ini. Rindu itu tak bertuan. Rindu itu rapuh.
Aku menyusuri jalanan yang pekat oleh asap knalpot dan hanya menyesakkan dada.
Kau sudah sangat paham, bukan hati yang terluka tapi senja. Senja yang perlahan kau khianati mulai terekam dengan baik seiring dengan semakin memerahnya langit.
Kau tak berdaya pada takdir. Kau menyerah pada jarak. Kau menyerah pada luka hingga ia dengan leluasa menyebar pada semua nadimu.
Dan aku menyerah pada pertanyaan yang selamanya tak akan pernah ku dapatkan jawabannya. Aku melepas senja yang begitu merah dengan hati yang tak lagi lapang. Aku mundur teratur karena aku tak ingin melepas tangis seusai senja berpamitan.
Hati itu tak terluka hanya saja senja yang semakin memerah hingga berwarna jingga.
Hujan mulai berdatangan. Jendelaku mulai basah dan embun datang lebih awal.
Hujan itu selalu manis, ia tak pernah tahu bahwa aku selalu menangis ketika ia berkunjung di pelataran rinduku.
Semesta, hujan terlalu dingin tahun ini. Susah payah aku membuatnya hangat, namun ia menutup rapat-rapat. Aku mulai merangkai seutas harap agar ia kelak menyerah atas hangat yang bertubi-tubi.
Semesta, hati itu belum utuh setiap hujan datang berkunjung. Ia lupa membawa kepingan hati. Aku tak memintanya, tapi tak bisakah ia kembalikan hati yang usang itu?
Hujan jarang berkunjung ketika september. Kemarin hujan hanya mengamatiku dalam derasnya, ia mencipta jarak ketika rindu belum usai.
Awan abu-abu membentuk sekat yang perlahan menyurutkan rindu. Sepasang mata tak melepas pandangannya pada hujan. Ia tak peduli dan terus mengguyur luka.
Semesta, tak bisakah kau mematikan nalar yang hanya membelenggu? Tak bisakah kau mengganti sedih dengan tawa lepas ?
Hujan, tak bisakah kau mengetuk sadarku bahwa hati itu masih pada tempatnya? Tak bisakah kau bergegas mengembalikan pelangi?
Dan bagaimana jika instingku tentang hujan kali ini benar?
Sejujurnya ada batas yang tidak ingin aku lewati.
Sejujurnya tidak ada lagi rindu yang tersimpan untuk kenangan.
Dan sejujurnya aku telah lama melangkah dari ketidakjujuran hati.
Tentu kau ingin aku segera pulang. Ya, aku telah menemukan jalan untuk melupakanmu.
Kau menyusuri jalanan yang perlahan mulai ramai dan kedai kopi menata kursi serta meja.
Sebatang nikotin menemani langkahmu berjalan menuju ujung barat kotamu.
Aku pun mengenali rindu yang berjalan di belakang senja sore ini. Rindu itu tak bertuan. Rindu itu rapuh.
Aku menyusuri jalanan yang pekat oleh asap knalpot dan hanya menyesakkan dada.
Kau sudah sangat paham, bukan hati yang terluka tapi senja. Senja yang perlahan kau khianati mulai terekam dengan baik seiring dengan semakin memerahnya langit.
Kau tak berdaya pada takdir. Kau menyerah pada jarak. Kau menyerah pada luka hingga ia dengan leluasa menyebar pada semua nadimu.
Dan aku menyerah pada pertanyaan yang selamanya tak akan pernah ku dapatkan jawabannya. Aku melepas senja yang begitu merah dengan hati yang tak lagi lapang. Aku mundur teratur karena aku tak ingin melepas tangis seusai senja berpamitan.
Hati itu tak terluka hanya saja senja yang semakin memerah hingga berwarna jingga.
Hujan mulai berdatangan. Jendelaku mulai basah dan embun datang lebih awal.
Hujan itu selalu manis, ia tak pernah tahu bahwa aku selalu menangis ketika ia berkunjung di pelataran rinduku.
Semesta, hujan terlalu dingin tahun ini. Susah payah aku membuatnya hangat, namun ia menutup rapat-rapat. Aku mulai merangkai seutas harap agar ia kelak menyerah atas hangat yang bertubi-tubi.
Semesta, hati itu belum utuh setiap hujan datang berkunjung. Ia lupa membawa kepingan hati. Aku tak memintanya, tapi tak bisakah ia kembalikan hati yang usang itu?
Hujan jarang berkunjung ketika september. Kemarin hujan hanya mengamatiku dalam derasnya, ia mencipta jarak ketika rindu belum usai.
Awan abu-abu membentuk sekat yang perlahan menyurutkan rindu. Sepasang mata tak melepas pandangannya pada hujan. Ia tak peduli dan terus mengguyur luka.
Semesta, tak bisakah kau mematikan nalar yang hanya membelenggu? Tak bisakah kau mengganti sedih dengan tawa lepas ?
Hujan, tak bisakah kau mengetuk sadarku bahwa hati itu masih pada tempatnya? Tak bisakah kau bergegas mengembalikan pelangi?
Dan bagaimana jika instingku tentang hujan kali ini benar?
Sejujurnya ada batas yang tidak ingin aku lewati.
Sejujurnya tidak ada lagi rindu yang tersimpan untuk kenangan.
Dan sejujurnya aku telah lama melangkah dari ketidakjujuran hati.
Tentu kau ingin aku segera pulang. Ya, aku telah menemukan jalan untuk melupakanmu.

Comments
Post a Comment